Recipes for a Perfect Marriage

Saya suka membeli buku nonfiksi, terutama jenis psikologi populer, cara menjadi orang tua yang baik, pengembangan diri, dan memoar orang terkenal. Saat membaca pikiran saya sibuk menelaah ilmu yang ingin dibagikan penulisnya, saya jadi sibuk menghubung-hubungkan paparan penulis dalam buku dengan pengalaman saya yang lalu, dan setelah membaca rasanya puas karena merasa satu lagi pertanyaan saya tentang misteri hidup ini telah terjawab. Setelah membaca buku nonfiksi, saya merasa seperti disuntik vitamin supaya lebih optimis menghadapi hidup. Kira-kira seperti itulah.

Tetapi kalau mengeluarkan uang untuk novel, rasanya sayang. Kadang-kadang saya beli juga sih novel yang katanya bagus dan laris, tetapi sering kali di tengah-tengah saya jadi mengantuk dan tidak kuasa menamatkannya. Bosan. Kalaupun kebetulan senang dengan ceritanya, saya bukan tipe manusia yang suka membaca novel berulang-ulang. Sekali baca, langsung saya singkirkan dari rak buku pada hari sampah daur ulang di apartemen saya di Jepang dulu.

Untungnya, sepulang ke tanah air, saya menjadi penerjemah buku nonfiksi. Dibayar untuk membaca buku-buku nonfiksi yang saya sukai dan membagikan isinya dengan penggemar buku yang lain. Betul-betul “tenshoku (天職)” bagi saya. Pekerjaan yang diberikan Tuhan dan menjadi panggilan jiwa saya.

Sejak mulai punya blog tentang pekerjaan saya, saya mulai mengikuti beberapa blog penerjemah yang sudah duluan berkecimpung di dunia penerbitan. Entah kebetulan atau bagaimana, semuanya penerjemah fiksi. Hari demi hari, saya membaca tulisan mereka tentang resensi buku-buku novel, baik yang mereka terjemahkan sendiri maupun orang lain. Maka akhir pekan kemarin, saya mampir ke Gramedia Mal Taman Anggrek di Jakarta, dan mencoba memilih satu novel untuk dicoba baca.

Sepertinya semua judul novel yang ada di sana saya ambil dan buka-buka buku sampelnya. Tapi kok nggak ketemu juga yang cocok.

Kenapa kok musti baca soal spionase? Kenapa kok musti baca kisah cinta orang lain? Kalau baca buku ini katanya sedih, nangis, terus manfaatnya? Apa serunya baca novel tentang ibu rumah tangga? Eh kok orang ini menulis buku tentang penculikan anak ya? Oh ini toh buku-buku penulis ini… Tapi apa nggak ada yang lain ya? Orang ini pernah baca dulu, bosan. Yang ini aja? Eh jangan beli yang ini ah…

Beberapa jam kemudian, akhirnya, setelah ketiga anak merengek-rengek karena sudah jemu, minta diperbolehkan pulang… dengan sangat kepepet dan terdesak, saya pilih:

Recipes for a Perfect Marriage -Resep Perkawinan Sempurna-” dari Kate Kerrigan. Alih bahasa: Tanti Lesmana. Penerbit: Gramedia Pustaka Utama.

Setelah pulang, baru saya perhatikan, novel ini, judulnya seperti buku nonfiksi.

Ini adalah blog bahasa Jepang untuk calon penerjemah, jadi sekarang saya akan menerjemahkan tulisan di sampul belakangnya ke dalam bahasa Jepang. Silakan bandingkan. Versi bahasa Indonesia bisa dilihat di sini.

Kanpeki na kekkon nante arienai to minna ga iu.
完璧な結婚なんてありえないとみんなが言う。

Demo arienai no wa, kurou shinai kekkon seikatsu de aru.
でもありえないのは、苦労しない結婚生活である。

Nyu-yo-ku de fu-do raita- to shite seikou shita Toressa No-ran wa machigatta otoko to kekkon shite shimatta to iu kimochi de, shinkon ryokou kara kaette kita.
ニューヨークでフード・ライターとして成功したトレッさ・ノーランは間違った男と結婚してしまったという気持ちで、新婚旅行から帰ってきた。

Otto no Dan wa sugoku hansamu dakedo, kare to kekkon suru riyuu wa ai janaku, fuan no kimochi datta.
夫のダンはすごくハンサムだけど、彼と結婚する理由は愛じゃなく、不安の気持ちだった。

1930nen, sokoku Airurando de Toressa no sofu de aru Ba-nadi-n wa kazoku ga yuinou ga haraenai tame ni, saiai no Maikeru to kekkon o shikatanaku tebanashite shimai, mukuchi de goku heibon na kyoushi de aru Je-musu No-ran to kekkon shite shimatta.
1930年、祖国アイルランドでトレッさの祖母であるバーナディーンは家族が結納が払えないために、最愛のマイケルと結婚を仕方なく手放してしまい、無口でごく平凡な教師であるジェームス・ノーランと結婚してしまった。

Toressa no kekkonshiki toujitsu, kanojo wa sobo no nikki o moratta. Sono pe-ji no naka ni, jamu ya so-da no pan, ruba-bu no ke-ki no reshipi nado, ironna koto ga tsuzurareru. Sofubo no hanashi ya haha no hanashi, soshite Toressa jishin no koto mo kaite aru nikki no naka kara, Toressa wa kanpeki na kekkon o jitsugen saseru tame no reshipi o mitsuketa no datta.
トレッサの結婚式当日、彼女は祖母の日記をもらった。そのページの中に、ジャムやソーダのパン、ルバーブのケーキのレシピなど、いろんなことがつづられる。祖父母の話や母の話、そしてトレッサ自身のことも書いてある日記の中から、トレッサは完璧な結婚を実現させるためのレシピを見つけたのだった。

Catatan:

Di Jepang, terjemahan bahasa Jepang buku ini terbit dengan judul Shiawase Na Kekkon Wa Panke-ki No Nioi Ga Suru 『幸せな結婚はパンケーキの匂いがする』 (Perkawinan Bahagia Beraroma Kue Panekuk) dengan nama asli penulisnya: Morag Prunty モラグ・プランティ. Sampul versi bahasa Indonesia lebih girly dan cerah ya.

10 responses to “Recipes for a Perfect Marriage

  1. Bagus nggak mbak bukunya? saya juga kurang suka buku2 fiksi. Tapi herannya kemarin sempat baca buku Stephenie meyer, kok malah ngefans :p dasar perempuan banget.

    • Seneng banget punya teman yang kurang suka fiksi juga. Saya juga kurang suka baca komik padahal Jepang terkenal komiknya.

      Ceritanya itu ya… tentang dua orang perempuan ~Tressa dan neneknya~yang merasa salah pilih suami dan tidak menikahi cinta sejati mereka. Banyak renungan tentang artinya cinta dan kebahagiaan dalam perkawinan. Saya suka sih, sepertinya novel ini cocok untuk saya yang suka baca nonfiksi genre relationship.

      Meyer, cerita dunia pervampiran, nggak tertarik baca sama sekali. Sepertinya selera kita berbeda Mbak Ary. ;D

  2. hahaha… suami saya juga heran lihatnya.
    Kalau nggak karena semua sepupu suami saya kasih jempol buat bukunya and nggak sengaja ketonton filmnya ditempat tante. Mungkin saya juga g kenal sama Meyer🙂 Bukan masalah vampirenya mbak, tp masalah perempuan yg seneng banged baca buku kalau dia dipuja2 gitu. Makanya saya blg, novelnya perempuan banged😀

  3. Cover versi jepang-nya suram banget… agak gak sesuai sama isi… tapi terjemahan judulnya bikin laper.. hehehe…

  4. Terima kasih, Mbak Dini, jadi terilhami untuk cari tahu cover Prancis buku terjemahan yang saya baca..*atau buku yang saya kerjakan terjemahannya, hehehe..*
    Sejujurnya, sudah terlintas niat untuk meresensi dalam bahasa Prancis. Sekalian berlatih, gitu..sempat ragu karena tentu banyak teman blogger yang tidak mengerti. Tapi toh..komentar tidak selalu penting ya…*menyimpulkan dari banyak pengalaman dan pengamatan*
    Sekali lagi, terima kasih..merci beaucoup:D

    • Oh iya Mbak Rini. Mbak Rini kan buku terjemahannya sudah banyak, pasti asyik ngebandingin dengan cover asli. Saya masih suka sih berselancar di toko buku Jepang meski liat-liat cover doang.

      Resensi bahasa Perancisnya pakai bahasa Indonesianya juga Mbak Rini, biar yang lain juga ngerti. Jadi latihan menerjemahkan juga. He he… dua kali kerja? Kalau blog tanpa pembaca, apakah blog itu betul-betul *ada*?😀

      Merci beaucoup jawabannya apa ya… ntar liat kamus dulu…
      Je vous en prie. Ca ne fait rien. De rien. Nah, itu tinggal pilih salah satu.😀

  5. Iya sih, tapi kebanyakan buku terjemahanku saat ini bahasa Prancis dan malah nggak ada terjemahan Inggrisnya…aku akan perhatikan lain kali:)

    Bahasa Prancisnya pakai Indonesia juga..baiklah:) Aku tidak bermaksud mengabaikan pembaca, namun sekarang ini sangat tajam perbedaan respon antara posting di MP dan di FB.
    Terima kasih ya, Mbak, atas masukannya.

    • Sama-sama Mbak Rini. Pembaca MP dan FP beda responnya bagaimana? Tergantung sasaran blog yang kita tentukan ‘kali ya Mbak… untuk kelompok pembaca yang bagaimana.
      Saya rasa, dengan blog ini saya melayani niche yang kecil sekali (bahasa Jepang tingkat lanjut untuk calon penerjemah), tapi nggak masalah, soalnya *cinta*.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s