Belajar Bahasa Jepang, Memulainya dari Mana Ya?

Shinjuku Desu!Saya mulai belajar bahasa Jepang usia 19 tahun, dan saya pernah berkenalan dengan ibu-ibu Jepang yang menjadi penerjemah bahasa Indonesia, dan menurut ceritanya dia mulai belajar bahasa Indonesia usia 30 tahun sebagai hobi. Jadi sebetulnya tidak ada kata terlambat ya, asal niat dan motivasi belajar tetap terjaga.

Mengapa Anda ingin belajar bahasa Jepang? Saya dulu tinggal di Jepang sehingga tidak ada pilihan lain (alasan yang tidak menginspirasi hahaha).

Karena saya cukup sering ditanya, dari mana mulainya kalau ingin belajar bahasa Jepang? Dari mana ya? Saya bingung juga. Ya dari awal. Tetapi di manakah “awal” itu?

Tergantung.
Anda siapa, dan tujuan Anda apa.

Misalnya nih, saya punya anak bayi. Yang pertama kali saya ajarkan pada dia, pasti bukan “jiko shoukai” (自己紹介/perkenalan diri). Pasti bukan:
Konnichiwa. Kanae to moushimasu. Indoneshia kara kimashita. Douzo yoroshiku onegai shimasu. (Selamat siang. Nama saya Kanae. Saya datang dari Indonesia. Salam kenal.)
Saya akan mulai dari kata-kata seperti “oppai” (susu ibu), “hoshii” (mau), “choudai” (minta), “wanwan” (bahasa anak kecil untuk “anjing”), dan sebagainya yang mudah ditemukan sehari-hari dalam kehidupan seorang bayi yang baru belajar bicara.

Waktu di kelas bahasa dulu, saya dan kawan-kawan dipersiapkan untuk mengikuti kuliah. Dan untuk kuliah perlu membaca buku sehingga penekanan pelajarannya pada hapalan kanji dan tata bahasa, terutama tata bahasa tulisan, yang kaku dan jarang muncul dalam percakapan. Menurut saya agak membosankan, dan sebetulnya saya lebih suka bahasa Jepang yang praktis, untuk percakapan sehari-hari dan bisa dipakai untuk menonton acara TV Jepang.

Di Indonesia saya pernah juga merasakan kursus bahasa Jepang. Saya rasa mayoritas pesertanya orang kantoran yang hanya perlu percakapan dengan atasan yang orang Jepang, tidak perlu bisa membaca dan menulis, dan mungkin itu sebabnya seluruh pelajaran dituliskan dengan huruf romaji (alfabet ABC), bukan huruf-huruf Jepang (hiragana, katakana, dan kanji). Kalau ingin menjadi penerjemah, saya rasa lebih baik belajar huruf Jepang sedini mungkin daripada huruf romaji. Kalau ingin chatting lewat Twitter dengan orang Jepang pun, lebih baik Anda ketik hiragana semua daripada huruf romaji semua. Kalau romaji biasanya mereka bingung. Saya kurang tahu kenapa bingung padahal kan mengetik di komputer pasti dengan cara membaca romaji ya. Entahlah, saya belum pernah konfirmasi mengapa begitu pada orang Jepang hehe.

Sedangkan ibu-ibu Indonesia yang baru belajar bahasa Jepang, di Jepang, mungkin belajar bahasa Jepangnya mulai dari tempat yang lain lagi. Mungkin dari belajar istilah-istilah yang dekat dengan dunia ibu-ibu dulu, seperti miso (tauco Jepang), komugiko (tepung terigu), tamago (telur), su-pa- (pasar swalayan), hoikuen (taman penitipan anak), dan sebagainya. Bukaan… ini bukan diskriminasi gender… Saya dulu menikmati sekali jadi ibu rumah tangga di Jepang.

Saya rasa enaknya belajar sambil hidup di Jepang, karena meskipun awalnya tersiksa, merasa buta huruf dan tidak mengerti orang lain bilang apa, proses belajar terasa nikmat lantaran orang Jepang kebanyakan sabar-sabar, sopan, dan berusaha menolong. Saya bisa belajar sesuai kecepatan saya sendiri. Begitu maksud saya tersampaikan rasanya senang sekali, sedangkan kalau tidak bisa saya tidak diledeki. (Mungkin karena dari tampang saya sudah aneh sendiri, pakai jilbab, yang berani mendekati saya cuma mereka yang berpikiran terbuka dan baik-baik saja.)

Meskipun pengalaman tinggal di Jepang bisa jadi nilai plus, untuk menjadi penerjemah bahasa Jepang rasanya kok tidak wajib juga tinggal di Jepang dulu. DVD anime, drama, dan film Jepang dengan mudah ditemukan di Indonesia. Bahkan komik dan buku Jepang edisi bunko dan shinsho (buku edisi kecil yang ringan dan mudah dibawa ke mana-mana, orang Jepang biasanya bawa untuk dibaca di kereta) yang lebih murah daripada buku biasa, juga sudah bisa ditemukan di Kinokuniya Jakarta (Ngiklan? Saya nggak ada hubungannya sih, cuma pengunjung kok). Apalagi ada internet… tinggal klik-klik saja, Anda sudah bisa terekspos dengan bahasa Jepang yang sebenarnya, bukan yang textbook.

Kalau saya ditanya, mulai dari mana… barangkali saya akan jawab, ya terserah saja, mulailah dari yang Anda bisa. Kadang-kadang ada juga yang mengeluh katanya dia ingin belajar bahasa Jepang, tetapi tidak bisa karena tidak ada (pilih salah satu): kursus/buku/bahan belajar/teman orang Jepang/tidak tinggal di Jepang. Lho kenapa berpikir yang tidak bisa-tidak bisa terus? Kan saya sarankan mulailah dari yang bisa? Hehehe…

Terakhir saya mohon maaf karena mangkir lama sekali. Mudah-mudahan mulai besok kita bisa mulai pelajaran bahasa Jepang dasar. Dari awal. Awal menurut kemampuan seorang Andini, yang bukan sensei melainkan penerjemah bahasa Jepang biasa yang hina dina. Mungkin tidak cocok untuk semua orang. Tetapi gratis, jadi dilarang protes hahaha. Sampai besok… Mata ashita.

11 responses to “Belajar Bahasa Jepang, Memulainya dari Mana Ya?

  1. Wah, asik nih ada update tebaru celotehannya Andini-san. Saya jadi semangat lagi belajar. Saya belajar bahasa jepang sejak SMA secara otodidak dari radio NHK, buku2 dan internet, buat iseng2, tanpa les, tanpa guru, makanya males-malesan, akhir2 ini saya malah lagi kehilangan motivasi, saya pikir buat apa, toh saya nggak ada niatan pergi ke Jepang, nggak punya relasi orang Jepang, cuman obsesi masa remaja yang sudah termakan usia ^^. Sekarang usia saya sudah lebih dari seperempat abad *kadang saya miris sendiri mengingat embel2 ‘abad’ di usia saya ^^*
    Tapi begitu membaca tulisan Andini-san ada ibu2 jepang belajar bahasa Indonesia sejak usia 30 karena hobi, rasanya saya jadi terinspirasi. Walau sudah tua, saya masih hobi baca manga dan nonton anime, hehe… walaupun nggak pergi ke Jepang, toh belajar bahasa asing bisa menambah isi otak kita tanpa membuatnya makin berat untuk dibawa2. Biarpun cuman iseng dan tanpa tujuan khusus, tapi belajar bukan hal yang sia2. Bukan begitu, Andini-san?

    • Salut deh sama semangatnya. Semoga suatu hari nanti bisa ke Jepang untuk praktik bahasa ya, Ariehime-san… Sekarang banyak perawat ditugasbelajarkan ke Jepang, dulu siapa sangka ada kesempatan begitu? Saya juga nggak nyangka bisa ke sana.

      Iya loh. Kenapa ya orang Jepang banyak yang sudah tua-tua tetapi tetap belajar hal baru (mengirim e-mail, bahasa asing, dan sebagainya)… semangat mereka perlu ditiru.

  2. Mksih ka habis baca ini saya jd semangat lagi blajarx,hehehehe
    krna sering males-malesan dan terkadan

  3. Saya tertarik belajar bahasa jepang karena tulisannya yang menarik. Sampai sekarang masih berusaha agar bisa membacanya tulisannya dengan lancar. Menulis email dng org Jepang dan baca2 tulisan tetang bahasa Jepang di internet supaya tetap ingat. Blog ini seru bgt, keren buat belajar…

  4. Saya jd tertarik nih, bagaimana saya bisa belajar dengan Mbak ini, tolo9ng dibantu….

  5. sy ingin skali bisa bhs jepang u sekedar bisa berkomunikasi dgn org jepang…bgaimana caranya ya???yg bebas biaya…hehehe

  6. saya sekrg bekerja di perusahaan jepang di indonesia,walaupun gak dipaksa belajar berbahasa jepang tapi saya hanya ingin berkomunikasi sama meraka ya hitung2 kesempatan untuk belajar secara alami…mohon bantuanya..karena saya tidak tau kedepannya karir saya kyk gimana sapa tau aja bisa ke jepang aminnn…arighato andini-san

  7. sy skrg d jepang, tepatny di hiroshima. udh 1,5 tahun tp bhs jepang sya kok msh belepotan ya.. minta sarannya mbak.. hehehe

  8. Sangat bermanfaat. Arigato gozaimasu

  9. pengalaman mbak bermanfaat sekali loh buat saya yg beberapa bulan lagi magang di Jepang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s